Monday , May 17 2021
Breaking News
Home / News / Internasional / Festival Bali di Australia Banjir Hujatan Karena Representasi Budaya yang Keliru
Festival Bali di Australia Banjir Hujatan Karena Representasi Budaya yang Keliru

Festival Bali di Australia Banjir Hujatan Karena Representasi Budaya yang Keliru

Australia, YukUpdate – Festival bertema Bali di Australia Barat meminta maaf pada publik dan masyarakat Bali karena karena tidak sesuai promosi dan representasi yang keliru tentang budaya Bali. Balifest menarik minat banyak orang yang rindu pada Bali dan sebagian penjualan tiket untuk organisasi amal di Bali yang sangat terdampak pandemi.

Setiap tahun lebih dari sejuta orang Australia melancong ke Bali untuk memanjakan diri, menikmati matahari, pantai dan laut yang hangat.

Penutupan perbatasan sejak Maret 2020 menghalangi kerinduan warga Australia pada Bali, sehingga Balifest yang menjanjikan atraksi budaya Bali, suasana santai di tepi pantai, dan bir Bintang dingin menjadi sangat menggoda.

Janji penyelenggara Balifest yang digelar di kota pantai Mandurah, Australia Barat untuk menyumbangkan sebagian dari hasil penjualan tiket untuk organisasi amal di Bali semakin menarik minat orang yang peduli pada Bali yang sangat terdampak oleh pandemi. 

Namun sejak hari pertama Balifest dibanjiri hujatan karena dianggap tidak sesuai dengan promosi dan representasi yang keliru tentang budaya Bali.

Pada hari ketiga festival, penyelenggara menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, termasuk kepada masyarakat Bali yang tersinggung.

“Kami menggunakan kesempatan ini setelah beberapa hari festival untuk meminta maaf secara terbuka kepada mereka yang telah menyatakan bahwa mereka merasa dibohongi dan diremehkan oleh keseluruhan acara,” sebut penyelenggara Balifest di Facebook pada Minggu 4 April.

“Kami juga ingin dengan sepenuh hati meminta maaf kepada masyarakat Bali yang tersinggung oleh kurangnya representasi budaya pada (festival) kami.”

Balifest yang digelar pada masa liburan Paskah 2-6 April mengklaim membawa Bali ke Australia dengan panggung musik, penjualan makanan, olahraga air, minuman, dan semua yang diharapkan orang ketika mengunjungi Bali.

“Acara ini dimaksudkan sebagai perayaan hiburan dan budaya sekaligus menyadarkan perjuangan di Bali karena (pandemi) COVID, jelas kami salah paham,” sebut Balifest.

“Kami mencoba menghadirkan gaya hidup Bali yang santai di mana Anda dapat duduk santai dan menikmati (bir) Bintang dingin dengan musik, sambil mendukung artis lokal yang sangat terpengaruh oleh pandemi.”

Laman facebook Balifest dihujani komentar dan ulasan negatif dari pengunjung yang merasa dikelabui oleh promosi dan banyak yang menuntut kembali uang tiket $30 per orang. 

Beberapa komentar pengunjung menyatakan akan menyampaikan keluhan pada Australian Competition and Consumer Commission (ACCC) dan dewan kota Mandurah yang telah memberikan izin untuk festival ini.

Merespons tuntutan itu, Balifest menjanjikan akan mengembalikan uang tiket bagi pengunjung yang mengajukan klaim.

“Tidak diragukan lagi, hal yang benar untuk dilakukan adalah menawarkan pengembalian dana penuh kepada mereka yang telah mengungkapkan kekecewaannya,” sebut Balifest.

SBS Indonesia telah menghubungi Balifest dan direktur festival Leigh Rose untuk mendapatkan pernyataan lebih lanjut tapi belum mendapat respons.

Perampasan budaya 

Riuh rendah tentang Balifest diwarnai oleh tudingan acara ini telah melakukan perampasan atau apropriasi budaya (cultural appropriation) yaitu perbuatan mengambil atau menggunakan sesuatu dari kebudayaan lain tanpa menunjukkan pelakunya memahami atau menghargai budaya tersebut

Fenomena ini menjadi kontroversial ketika anggota dari kebudayaan yang dominan mendapat keuntungan dari kebudayaan minoritas yang tidak beruntung.

“Saya harap Anda mendapat pelajaran tentang apropriasi budaya, dan betapa busuknya menempatkan sebuah acara yang mengklaim untuk orang Bali, sementara mengucilkan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Ini benar-benar menjijikkan,” sebut akun Dwain Hill pada laman facebook Balifest.

Tudingan apropriasi budaya mengemuka karena komunitas Bali di Australia Barat tidak dilibatkan secara langsung dalam perencanaan maupun pelaksanaan acara.

Putu Hayhow, ketua Bali Dewata, komunitas masyarakat Bali di Australia Barat mengatakan pihaknya dihubungi oleh penyelenggara Balifest yaitu Leigh Rose pada 22 Maret.

“Salah seorang anggota kami mengeluhkan kenapa festival tentang Bali tapi tidak ada masyarakat Bali yang diikutkan atau diberitahu. Tapi sebelum itu kami tidak pernah didekati atau ada pemberitahuan dari pihak Balifest,” kata Putu.

“Setelah berunding kami tidak bisa bergabung atau mendukung Balifest karena pemberitahuan yang terlambat dan Balifest sudah menggandeng Perth Indonesian Community (PIC) yang sebelumnya tidak pernah menyampaikan informasi tentang Balifest kepada komunitas Bali.”

Menurut Putu, tidak cukup waktu bagi pihaknya mempersiapkan diri untuk berpartisipasi dalam festival ini.

“Untuk penari perlu latihan yang tidak sebentar. Dan jadwal festival hari libur dimana banyak keluarga sudah membuat agenda mereka,” kata dia.

Miska Suryanita, deputi PIC, menyatakan pada 4 Maret dia dihubungi oleh penyelenggara Balifest yang membutuhkan penari untuk mengisi acara, namun tidak langsung menyanggupi karena pihaknya sudah disibukkan oleh komitmen untuk berpartisipasi di acara lain.

“Pada 7 Maret kami diberitahu kalau esok harinya mereka akan melakukan pengambilan video untuk promosi festival. Sebagai klien yang membutuhkan dukungan untuk menunjang acaranya, kami mencoba membantu pada saat itu,” sebut Miska yang memimpin sanggar tari Selendang Sutra.

Karena keterbatasan jumlah penari, Miska tidak menyanggupi seluruh permintaan Balifest, dan kebanyakan tarian yang ditampilkan adalah tari Nusantara, tidak khusus Bali.

Pada festival hari Sabtu, laman facebook Balifest mengunggah video penampilan penari berkostum Bali, melakuan beberapa gerakan tarian Bali tapi dalam koreografi zumba. 

Video ini menuai hujatan karena dianggap melecehkan tarian Bali pakem tradisional dan mendapat ratusan komentar sebelum akhirnya dihapus.

Penari yang sama juga sebelumnya menampilkan tari Janger yang videonya juga diunggah di laman Balifest dan telah dihapus.

Alice McDonald, seorang warga Perth yang mengagumi budaya Indonesia mengatakan masalah ini bermuara dari ketidakpahaman penyelenggara pada budaya Bali.

“Penyelenggara tidak memahami budaya Bali dan mereka tidak bekerja dengan komunitas Bali untuk memastikan bahwa mereka mendapatkan detail yang benar,” kata Alice yang kerap terlibat dengan acara kebudayaan Indonesia.

“Saya juga merasa bahwa ini salah menggambarkan bagaimana orang Australia menghargai Bali dan budayanya. Dengan mengedepankan promosi bir Bintang dan suasana pantai, ini kan hanya seperti tentang Kuta, yang disukai banyak orang Australia,” tambah Alice.

“Padahal Bali tidak hanya Kuta.”

Artikel ini sudah diterbitkan di https://www.sbs.com.au/language/indonesian/bir-bintang-dan-tari-zumba-festival-bali-di-australia-barat-banjir-hujatan-karena-representasi-budaya-yang-keliru?fbclid=IwAR0_UStlZO2GsgEmFYWRLqf_LuR6VBHDCIzIN4hD7Jnfh4qynAxGg1OCfeY

loading...
https://thebalidestiny.com/car

Check Also

Menakutkan, Delegasi India di KTT G7 Ternyata Positif Covid-19

Menakutkan, Delegasi India di KTT G7 Ternyata Positif Covid-19

London, YukUpdate– Seluruh delegasi India yang pergi ke KTT Kelompok Tujuh (G7) di London mengisolasi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Eitss ga bole copas lho !!