Sunday , January 26 2020
Breaking News
Home / News / Internasional / America / The Fed Tak Pangkas Suku Bunga, Saatnya Pantau AS-China Lagi

The Fed Tak Pangkas Suku Bunga, Saatnya Pantau AS-China Lagi

Jakarta, YukUpdate – Berbeda dengan dua periode perdagangan sebelumnya, kemarin pasar keuangan tanah air kompak ditutup terkoreksi. Koreksi terjadi di tengah penantian apakah penerapan tarif baru terhadap produk impor asal China akan terjadi 15 Desember nanti.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi tipis 0,06% ke level 6.189,1 pada perdagangan kemarin, Rabu (11/12/2019). IHSG menjadi salah satu dari tiga bursa utama kawasan Asia dengan kinerja terburuk.

Bersama IHSG, indeks SETi dan indeks Nikkei225 menutup perdagangan kemarin di zona merah. Bahkan bisa dibilang IHSG merupakan bursa saham di kawasan Benua Kuning dengan kinerja terburuk kedua setelah Jepang.

Setelah mengalami penguatan empat hari beruntun, nilai tukar rupiah terhadap dolar akhirnya ditutup melemah. Mata uang Garuda terdepresiasi 0,18% pada perdagangan kemarin dan menyentuh level Rp 14.030/US$.

Memang perdagangan kemarin diwarnai dengan pelemahan mayoritas mata uang Asia terhadap dolar. Namun kinerja rupiah tak bisa dibilang moncer. Pasalnya, rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terburuk kedua di Benua Kuning setelah won.

Di pasar obligasi pemerintah, koreksi harga juga tak terelakkan. Hal itu tercermin dari kenaikan imbal hasil empat seri surat utang yang menjadi acuan. Seri acuan yang paling melemah adalah FR0078 dan FR0079 yang masing-masing bertenor 10 dan 20 tahun.

Melemahnya pasar keuangan dalam negeri terjadi di tengah penantian kelanjutan negosiasi dagang AS-China. Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa AS berencana untuk menunda penerapan tarif untuk produk impor asal China 15 Desember nanti.

The Wall Street Journal pada Selasa melaporkan bahwa rencana penundaan tarif tambahan tersebut dilakukan guna memuluskan tercapainya kesepakatan. Tak bisa dipungkiri dalam kurun waktu hampir dua tahun ini perang dagang telah menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

“Perang dagang masih menjadi ladang ranjau terbesar, tapi yang bisa dilakukan adalah mengikuti harga dan berharap akan ada resolusi,” tutur Chief Investment Strategist Capital Wealth Planning Jeff Saut, dalam laporan risetnya

Dari bursa tanah air nilai transaksi harian pekan ini juga tak jauh-jauh dari Rp 6 triliun dengan asing membukukan aksi jual bersih Rp 109,7 miliar pada perdagangan Rabu (11/12/2019).

https://thebalidestiny.com/car

Check Also

Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Menguat Di Awal 2020

Harga minyak mentah global tercatat naik di awal tahun. Harga minyak Brent hari Kamis (02/Januari) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!